Senin, 04 Juni 2012

Rekayasa Cinta (2)

(lanjutan)

Cinta. Nuansanya tak lagi melukiskan pesona indahnya kemesraan.
Ya benar sekali, di zaman sekarang, nuansa cinta sebenarnya yang mulai terjalin lewat prosesi kenal mengenal atau ta'aruf memang tidak populer. Mereka yang melakukan ta'aruf kebanyakan anak pondok pesantren yang benar-benar memahami hukum Islam tentang apapun, termasuk tentang Nikah. Marjin kelompok pasangan yang melakukan ta'aruf dibandingkan dengan merjin kelompok pasangan yang melakukan pacaran pra-nikah sangat jauh perbedaannya. Jadi, bisa dipahami bahwa cinta yang sebenarnya murni dan suci harus rela merenggut nilai-nilai kesucian dari diri pelakunya. Nafsu yang berkedok cinta.

Jalinannya tak lagi menjanjikan masa depan kebahagiaan.
Orang yang pacaran gak bakal terhindar dari yang namanya zina. Serapat apapun jilbab yang dikenakan oleh seorang perempuan yang berprinsip pacaran, tidak akan mampu membendung serangan hawa nafsu hewaninya.  Apatah lagi jika seorang perempuan tidak berkerudung dan cenderung berpakaian terbuka. Apalagi tujuan yang bisa ditebak selain untuk menyenangkan mata dan hati pacarnya. Memang sih, pakaian yang dipakai seseorang belum tentu bisa dijadikan jaminan bahwa dia tidak melakukan zinah. Tapi, yang namanya pacaran, apapun bentuknya, mau pacaran yang tertutup atau pacaran yang terbuka. Mau pacaran yang disembunyikan dari orang lain ataupun dipamerkan kepada orang lain. Apapun bentuk dan jenisnya, itu jelas merupakan larangan Allah. Bukan apa-apa, pacaran tidak menjadikan hati dan perasaan menjadi bahagia. Kenapa ? Karena hubungan yang dijalin dengan awal yang tidak halal akan berujung kepada kemaksiatan. Pada akhirnya, seperti lirik lagu ini, jalinannya tidak akan lagi menjanjikan masa depan dan kebahagiaan pasangan tersebut. Karena jelas, di dalam kegiatan pacaran terkandung kegiatan noda menodai kesucian, baik secara langsung mapun secara tidak langsung, baik secara oral (melalui perkataan) maupun secara kinestetis (melalui perbuatan). Tak jarang, pasangan itu bercinta, lalu hamil. Siapa yang akan bertanggung jawab atas permasalahan ini ? So, Pacaran bukan jalan keluar menuju kebahagiaan. Ingat, bukan jalan keluar menuju kebahagian.

Kalau cinta sudah direkayasa, banyak bocah disulapnya dewasa.
Budi yang kaya, adat budaya, tak lagi terjaga.
Cinta itu membutakan. Membutakan mata, terlebih lagi hati. Maksud saya begini, media-media manapun saat ini, media televisi, radio, social media, majalah remaja, dan sebagainya, selalu membahas tentang cinta remaja. Media ini seolah menjadi kompor yang mampu membakar semangat para pemuda untuk berlomba-lomba mencari pacar tercantik, terganteng, terkaya, terluas pergaulannya, terpopuler, terpandang, dan lain-lain. Dampaknya adalah komporan oleh media ini membuat semua remaja, mulai usia SMP sampai usia Kuliah dilanda demam cinta yang berat. Seorang remaja malu jika dia dikatakan jomblo. Seorang remaja malu jika dia dikatakan tidak punya pacar di antara teman-temannya yang lain. Inilah yang menyebabkan semua remaja bermimpi ingin punya pacar. Modusnya bisa macam-macam. Ada yang pengen punya pacar untuk senang-senang, untuk punya status biar bisa dipuji teman-temannya, untuk dijadikan hobi, sampai ada yang punya pacar karena dia benar-benar butuh orang yang bisa ngasih dia perhatian lebih.

Seperti dua kisah berikut ini. Kisah pertama tentang seorang gadis yang masih sangat muda, namun ia kehilangan cinta ayahnya. Akhirnya, ia mencari pelampiasan, berharap ia bisa menemukan pangeran yang mirip dengan ayahnya, mirip wajahnya, mirip dengan tingkah laku dan kebiasaan ayahnya. Gadis muda ini sangat sangat mencintai ayahnya, lebih dari siapapun, bahkan lebih dari ibunya. Namun, ketika ayahnya dipanggil Yang Maha Kuasa, ia kehilangan cahaya hidupnya. Akhirnya, ia bertekad di dalam hati, pokoknya ia harus mendapatkan pria yang mirip dengan ayahnya. Ia pun memulai pencariannya. Bergonta-ganti pasangan, bergonta-ganti pacar, dan akhirnya si wanita muda ini pun menemukan pria yang ia rasa cocok sebagai pengganti papanya. Seiring waktu berlalu, ia merasa sangat yakin bahwa pria yang dia pacari ini akan menjadi pendampingnya kelak, menggantikan papanya di hatinya. Akhirnya, ia bertekad kepada dirinya sendiri, menyerahkan segalanya yang ia miliki, termasuk mahkotanya. Ia memasrahkan dirinya untuk jatuh ke dalam hangatnya telaga yang awalnya ia kira telaga cinta itu. Ia memasrahkan segala yang ia miliki untuk dijamah kekasihnya. Dan akhir ceritanya pun pasti bisa tertebak. Gadis muda itu kehilangan apa yang seharusnya ia jaga. Namun, ia tidak pernah menyesali apa yang telah ia alami. Gadis itu mengganggap bahwa itu adalah sebuah kedahsyatan cinta yang dianugerahkan kepadanya. Gadis malang yang putus asa dalam kebahagiaannya.

Kisah kedua. Juga tentang seorang gadis yang sangat muda. Ia tidak kehilangan seorang ayah, namun ia kehilangan kedamaian keluarganya. Orangtuanya bertengkar sengit setiap hari. Selalu saja pertengkaran itu menjadi alasan bagi dia untuk berada di luar rumah. Ia tidak tahan dengan pertengkaran itu. Akhirnya, sama dengan gadis pertama, ia mencari pelampiasan. Ia sepi, sendiri, tak ada yang menghibur, tak ada yang mendengarkan keluh kesahnya. Akhirnya, pencarian seseorang yang mau memperhatikannya itu dimulai. Ia menaruh harap besar pada seorang pemuda soleh. Di siang dan malamnya, hanya nama pemuda tersebut yang disebutnya. Bahkan ketika dia telah punya sahabat curhatnya pun, yang ia ceritakan hanyalah tentang pemuda itu. Tak ada hal yang lain. Ia bercerita tentang kegalauannya yang takut jika pemuda soleh tersebut dekat atau didekati wanita lain. Ia risau jika ia punya saingan dalam memiliki pemuda tersebut. Pokoknya tiada hari tanpa merasa galau, takut pemuda yang ia idam-idamkan direbut orang. Selain itu, ia juga ingin merasakan yang namanya pacaran. Padahal ia tergolong gadis yang muslimah, taat menjaga auratnya. Alasannya, apalagi jika ingin diakui keren karena memiliki pacar. Gadis malang yang putus asa dalam kegalauannya.

Itulah sepenggal cerita tentang dahsyatnya nafsu yang mampu menipu hati manusia. Mampu dan sangat mampu si nafsu ini mengelabui perasaan nafsu. Ia bisa menyamar menjadi cinta yang tulus dan suci. Dan sesaat kemudian berubah menjadi cinta yang menciptakan lubang maksiat yang nyata. Tidakkah kita berpikir bahwa cinta yang seperti itu hanya merugikan jiwa dan raga kita sebagai manusia yang benar-benar suci ?

Cinta. Ia adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Mengakhiri tulisan yang tergolong agak serius ini, saya berharap, setelah malam ini, semoga tak ada lagi pasangan muda-mudi yang mengedepankan nafsu mereka atas nama cinta. Amin.

Allahumma a'udzubika min fitnatinnisa.
Ya Allah, saya berlindung dari fitnah perempuan.
Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar